Kumpulan, Contoh, Surat, Izin, Jalan, Keterangan, Kuasa, Lamaran Kerja, Penawaran, Pengunduran Diri, Perjanjian, Permohonan, Pernyataan, Resmi, Undangan, Bahasa Inggris, Dinas, Cinta, Penolakan, Pengiriman, Niaga, Perdagangan, Penagihan

Syarat dan Tahapan Menyusun Surat Perjanjian



1. Syarat Sahnya Perjanjian

Agar sebuah perjanjian sah secara hukum harus memenuhi empat syarat sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUH Perdata yaitu:

a. Kesepakatan
Sebuah perjanjian tidak sah apabila dibuat atas dasar paksaan, penipuan atau kekhilafan. Perjanjian harus dibuat dengan persetujuan ikhlas para pihak.

b. Kecakapan
l'ang dapat membuat perjanjian adalah orang-orang yang oleh hukum dinyatakan sebagai subyek hukum. Walaupun pada dasarnya semua orang menurut hukum cakap untuk membuat kontrak namun ada pengecualian seperti anakanak, orang dewasa yang ditempatkan di bawah pengawasan (curatele), dan orang sakitjiwa.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang termasuk anak-anak adalah orang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun; kecuali kalau dia sudah atau pernah menikah.

c.Hal Tertentu
Yang dimaksudkan dengan "hal tertentu" dalam perjanjian adalah objek yang diatur harus jelas. Misalnya, perjanjian jual beli rumah harus jelas rumah yang mana, ukuranbangunan dan luas tanahnya berapa, dan sebagainya. Semakin jelas obyeknya, semakin baik perjanjian itu.

d.   Sebab yang Dibolehkan
Walaupun para pihak dapat membuat perjanjian apa saja, namun ada pengecualiannya yaitu sebuah perjanjian tidak boleh bertentangan dengan perundang-undangan, ketertiban umum, moral dan kesusilaan.
2.Tahapan-tahapan Penyusunan Perjanjian
Untuk membuat sebuah perjanjian yang baik serta mencegah terjadinya masalah  hukum di kemudian hari, maka perjanjian sebaiknya dibuat dengan tahapan tertentu mulai dari persiapan, sampai pada pelaksanaan perjanjian.

Tahapan Menyusun Surat Perjanjian :

a.  Negosiasi
Sebuah perjanjian tidak muncul tiba-tiba, tetapi (biasanya) terlebih dahulu dilakukan negosiasi. Pada proses ini terjadi tawar-menawar untuk kemudian dituangkan dalam perjanjian.

b.  Memorandum of Understanding (MoU)
Setelah pada tahap negosiasi tercapai kesepakatan, tahap selanjutnya membuat Memorandum of Understanding (MoU). Isi  MoU "hanya" butir-butir kesepakatan negosiasi. MoU bukan sebuah perjanjian tapi merupakan pegangan sementara bagi para pihak sebelum masuk pada tahapan penyusunan perjanjian.

c.  Penyusunan Perjanjian
Penyusunan perjanjian dimulai dengan membuat draft Perjanjian. Draft perjanjian ini kemudian dikoreksi oleh masing-masing pihak untuk kemudian ditandatangani.
Yang dibutuhkan dalam proses penulisan naskah perjanjian adalah kejelian dalam menangkap berbagai keinginan para pihak, memahami aspek hukum, dan menguasai bahasa perjanjian  dengan rumusan yang tepat, singkat, jelas dan sistematis.

Sebuah perjanjian   pada umumnya   mengikuti kerangka sebagai berikut:
(1)Judul perjanjian;
(2) Pembukaan;
(3) Identifikasi para pihak;
(4) Latar belakang kesepakatan (Recital);
(5) Isi;
(6) Penutup.

d.  Pelaksanaan Perjanjian
Sebuah perjanjian yang ideal mestinya  dapat dilaksanakan oleh para pihak. Artinya hak dan kewajiban masing-masing pihak dijalankan sepenuhnya sesuai dengan isi perjanjian.
Namun dalam pelaksanaannya bisa jadi para pihak punya penafsiran yang berbeda terhadap pasal-pasal tertentu. Bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadi persengketaan. Itulah sebabnya dalam perjanjian para pihak juga memasukkan pasal yang mengatur tentang pilihan hukum dan prosedur penyelesaian sengketa. 


Silahkan Lihat Di Bawah Ini Mungkin Bermanfaat Bagi Anda :
Share Fb
Share G+